Highlight

Ragam Obat Diklaim Efektif Lawan Corona Ilustrasi Oleh: Vinta Editor: Rachmad Zein 27 Sep 2020 16:40 KBRN, Jakarta: Sampai saat ini, banyak peneliti masih terus berusaha untuk menemukan cara ampuh untuk melawan virus corona di tengah masyarakat. Hal tersebut terbukti dengan adanya beberapa kali uji coba. Uji coba tersebut meliputi fase 2 hingga 3 dan hasil yang didapat dianggap cukup menjanjikan. Lalu apa saja obat covid-19 yang dapat menjanjikan kesembuhan para pasien yang positif dari virus mematikan ini? Dilansir dari berbagai sumber berikut macam-macam obatnya, diantaranya: 1. Obat antibodi dari Eli Lilly Obat pertama dalam daftar ini adalah obat antibodi dari perusahaan Eli Lily, obat ini diklaim dapat mengurangi risiko rawat inap. Antibodi penetral adalah respons alami tubuh terhadap patogen asing. Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Anthony Fauci, menyebut antibodi penetral sebagai standar emas perlindungan terhadap infeksi virus. Untuk membuat terapi antibodi, para ilmuwan mencari antibodi paling kuat di antara sekumpulan antibodi, kemudian mengkloning dan memproduksi antibodi tersebut dalam skala besar. Salah satu perusahaan yang mengembangkan obat corona dengan metode antibodi penetral adalah perusahaan Eli Lilly. Mereka mulai menguji obat antibodi yang disebut LY-CoV555 pada pasien mulai bulan Juni 2020. Pada bulan yang sama, obat tersebut memasuki uji coba fase 2 pada orang dengan kasus Covid-19 ringan hingga sedang. Perusahaan mengumumkan hasil awalnya minggu lalu. Perusahaan mengatakan telah menguji tiga dosis berbeda LY-CoV555 terhadap plasebo dalam percobaan yang melibatkan sekitar 450 pasien. Pada dosis 2.800 mg telah berhasil memenuhi target percobaan untuk secara signifikan mengurangi keberadaan SARS-CoV-2 setelah 11 hari. Namun, dosis obat antibodi lainnya, termasuk dosis 700 mg dan dosis 7.000 mg, tidak memenuhi tujuan itu. Akan tetapi, disebutkan dari obat itu membuat risiko rawat inap 72 persen lebih rendah. Uji coba fase 2 masih berlangsung, dan Eli Lilly berharap mendapatkan 800 peserta. 2. Obat Regeneron Perusahaan Regeneron memulai uji klinis untuk obat REGN-COV2, campuran dua antibodi, pada bulan Juni, obat ini baru saja memasuki uji klinis utama. Perusahaan ini berharap mendapatkan data awal pada akhir bulan ini, tetapi hasil awal disebut menguntungkan. Di antara 30 peserta pertama, termasuk pasien rawat inap dan non-rawat inap, obat intravena tampaknya aman. Obat itu juga telah terbukti mencegah dan mengobati virus corona pada hewan. Koktail antibodi telah menunjukkan cukup potensi untuk dimasukkan dalam salah satu uji klinis acak terbesar di dunia untuk pengobatan potensial Covid-19, yaitu uji coba pemulihan yang dipimpin Universitas Oxford. 3. Obat Actemra Obat ketiga dalam daftar ini adalah actemra yang dinilai dapat mengurangi kebutuhan akan mesin pernapasan. Para ilmuwan memiliki beberapa teori tentang mengapa beberapa pasien Covid-19 kondisinya cepat berubah menjadi lebih buruk. Salah satunya adalah respons imun yang agresif menyebabkan tubuh menyerang selnya sendiri, yang dikenal sebagai "badai sitokin". Sitokin adalah protein kecil yang dapat memicu aktivitas kekebalan dan peradangan dalam tubuh. Obat anti-inflamasi Roche Actemra menargetkan sitokin kunci yang disebut interleukin-6. Studi obat ini dilakukan pada Juli lalu. Studi telah mengamati peningkatan tingkat interleukin-6 di antara pasien Covid-19 yang sakit kritis. Peningkatan lebih tinggi terjadi pada kasus yang parah daripada yang ringan. Actemra tidak mengurangi kematian di antara pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dalam uji coba fase 3. Meski begitu, obat tersebut telah mengurangi kebutuhan akan mesin pernapasan atau ventilator dalam sebuah studi baru pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Selama 28 hari, hanya 12 persen pasien yang menerima obat intravena membutuhkan mesin pernapasan, dibandingkan dengan 19 persen pasien yang mendapat plasebo. Sekitar 85 persen dari hampir 390 peserta dalam penelitian ini adalah hispanik, hitam, pribumi Amerika, serta diidentifikasi dengan kelompok etnis atau ras minoritas lain. Itu menjadikan uji coba tersebut sebagai studi klinis fase 3 global pertama dari pengobatan Covid-19 yang sebagian besar melibatkan pasien minoritas. 4. Obat Baricitinib Eli Lily juga meneliti baricitinib atau olumiant sebagai obat Covid-19. Obat itu sebelumnya untuk mengobati orang dewasa dengan rheumatoid arthritis sedang hingga berat. Obat ini termasuk kelas obat anti-inflamasi yang disebut penghambat janus kinase (JAK), yang membantu menenangkan badai sitokin. Obat yang kemasannya dalam bentuk pil itu menunjukkan harapan awal sebagai obat Covid-19 jika dikombinasikan dengan remdesivir. Kombinasi obat itu memasuki uji coba fase 3 pada Mei lalu dengan melibatkan lebih dari 1.000 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Minggu lalu, Eli Lily mengumumkan kombinasi obat ini mengurangi waktu pemulihan rata-rata pasien satu hari dibandingkan dengan pasien yang hanya menerima remdesivir. Hasilnya menempatkan perusahaan selangkah lebih dekat untuk mencari otorisasi darurat dari FDA. 5. Obat Steroid Analisis WHO menemukan steroid dapat menurunkan angka kematian. Pedoman pengobatan AS telah merekomendasikan pemberian corticosteroid dexamethasone kepada pasien yang menggunakan ventilator atau membutuhkan dukungan oksigen. Sebuah uji klinis besar di Inggris pada bulan Juni menemukan dexamethasone mengurangi jumlah kematian hingga sepertiga untuk orang yang menggunakan ventilator, dan sebesar 20 persen di antara pasien yang mendapatkan oksigen ekstra. Baru-baru ini, sebuah penelitian di Brasil menemukan pasien yang memakai dexamethasone menghabiskan waktu lebih sedikit dalam menggunakan ventilator. Penelitian menunjukkan corticosteroid lain juga bisa efektif. Sebuah kelompok kerja WHO menganalisis tujuh uji coba acak corticosteroid yang secara total melibatkan lebih dari 1.700 pasien Covid-19 kritis. Beberapa menerima dexamethasone, sementara yang lain menerima hidrokortison atau metilprednisolon. Secara keseluruhan, para peneliti menemukan lebih sedikit kematian di antara pasien yang menerima steroid dibandingkan dengan mereka yang menerima perawatan standar atau plasebo. tags : ##Obat Covid-19, #Obat Menjanjikan 0 Komentar Reaksi anda terhadap berita ini : REKOMENDASI BERITA Pemerintah Gandeng UNICEF untuk Pengadaan Vaksin Terjangkau Apa Sebenarnya Manfaat dan Dampak Memakai Ganja? Manfaat Madu untuk Redakan Gejala ISPA Waspada Tawaran Bohong Obat Covid-19 di Internet Senayan: Kalung Anticorona Kementan Seperti Obat Gosok Mampukah Obat Dexamethasone Pulihkan Pasien Corona? BACA JUGA Retno Marsudi Tuntut Adanya Akses Vaksin Covid-19 Paspor Kesehatan Diklaim Efektif Lacak Covid-19 Teknologi Plasmacluster Diklaim Turunkan Risiko Penularan Corona Komentar Berita Terbaru Acara KAMI Ditolak, Gatot: Koyaklah Dadaku Sejarah Kelam, Berikut Sinopsis Singkat Film G30S/PKI Najwa Ungkap Alasan Wawancara 'Kursi Kosong' Kompetisi Liga 1 Antisipasi dengan Cara Virtual Puas Dengan Penampilan, PSSI Dukung Shin-Tae Yong Terpopuler Satu Persatu Deklarator KAMI akan Pergi? Politik • 4 hari yang lalu. Napi China Kabur Gali Gorong-gorong, Tanahnya Dimakan Hukum • 5 hari yang lalu. BP Jamsostek Mengimbau Agar BLT Dikembalikan Peristiwa • 4 hari yang lalu. Soal Utang, Otto Hasibuan Gugat Djoko Tjandra Hukum • 2 hari yang lalu. Masyarakat Dayak Minta Otonomi Kepada Presiden Daerah • 2 hari yang lalu. Dicambuk 169 Kali, Pemerkosa Minta Stop Dikabulkan Hukum • 5 hari yang lalu. Belasan Penghuni Perumahan Kaget Rumahnya Dilelang Daerah • 21 jam yang lalu. Acara KAMI tak Berizin, Din: tak Perlu Peristiwa • 6 jam yang lalu. Fokus Redaksi 01. #COVID-19 02. #SUBSIDI GAJI PEKERJA 03. #DJOKO TJANDRA 04. #ANCAMAN RESESI DUNIA 05. #PEMBELAJARAN JARAK JAUH 06. #PILKADA 2020

 


 Sampai saat ini, banyak peneliti masih terus berusaha untuk menemukan cara ampuh untuk melawan virus corona di tengah masyarakat.

Hal tersebut terbukti dengan adanya beberapa kali uji coba. Uji coba tersebut meliputi fase 2 hingga 3 dan hasil yang didapat dianggap cukup menjanjikan.

Lalu apa saja obat covid-19 yang dapat menjanjikan kesembuhan para pasien yang positif dari virus mematikan ini?

Dilansir dari berbagai sumber berikut macam-macam obatnya, diantaranya:

1. Obat antibodi dari Eli Lilly 

Obat pertama dalam daftar ini adalah obat antibodi dari perusahaan Eli Lily, obat ini diklaim dapat mengurangi risiko rawat inap. Antibodi penetral adalah respons alami tubuh terhadap patogen asing. 

Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Anthony Fauci, menyebut antibodi penetral sebagai standar emas perlindungan terhadap infeksi virus. Untuk membuat terapi antibodi, para ilmuwan mencari antibodi paling kuat di antara sekumpulan antibodi, kemudian mengkloning dan memproduksi antibodi tersebut dalam skala besar.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan obat corona dengan metode antibodi penetral adalah perusahaan Eli Lilly. Mereka mulai menguji obat antibodi yang disebut LY-CoV555 pada pasien mulai bulan Juni 2020. 

Pada bulan yang sama, obat tersebut memasuki uji coba fase 2 pada orang dengan kasus Covid-19 ringan hingga sedang. Perusahaan mengumumkan hasil awalnya minggu lalu.

Perusahaan mengatakan telah menguji tiga dosis berbeda LY-CoV555 terhadap plasebo dalam percobaan yang melibatkan sekitar 450 pasien. Pada dosis 2.800 mg telah berhasil memenuhi target percobaan untuk secara signifikan mengurangi keberadaan SARS-CoV-2 setelah 11 hari. 

Namun, dosis obat antibodi lainnya, termasuk dosis 700 mg dan dosis 7.000 mg, tidak memenuhi tujuan itu. Akan tetapi, disebutkan dari obat itu membuat risiko rawat inap 72 persen lebih rendah.

Uji coba fase 2 masih berlangsung, dan Eli Lilly berharap mendapatkan 800 peserta.

2. Obat Regeneron 

Perusahaan Regeneron memulai uji klinis untuk obat REGN-COV2, campuran dua antibodi, pada bulan Juni, obat ini baru saja memasuki uji klinis utama. 

Perusahaan ini berharap mendapatkan data awal pada akhir bulan ini, tetapi hasil awal disebut menguntungkan. Di antara 30 peserta pertama, termasuk pasien rawat inap dan non-rawat inap, obat intravena tampaknya aman. 

Obat itu juga telah terbukti mencegah dan mengobati virus corona pada hewan. Koktail antibodi telah menunjukkan cukup potensi untuk dimasukkan dalam salah satu uji klinis acak terbesar di dunia untuk pengobatan potensial Covid-19, yaitu uji coba pemulihan yang dipimpin Universitas Oxford.

3. Obat Actemra 

Obat ketiga dalam daftar ini adalah actemra yang dinilai dapat mengurangi kebutuhan akan mesin pernapasan. Para ilmuwan memiliki beberapa teori tentang mengapa beberapa pasien Covid-19 kondisinya cepat berubah menjadi lebih buruk. 

Salah satunya adalah respons imun yang agresif menyebabkan tubuh menyerang selnya sendiri, yang dikenal sebagai "badai sitokin". Sitokin adalah protein kecil yang dapat memicu aktivitas kekebalan dan peradangan dalam tubuh. 

Obat anti-inflamasi Roche Actemra menargetkan sitokin kunci yang disebut interleukin-6. Studi obat ini dilakukan pada Juli lalu.

Studi telah mengamati peningkatan tingkat interleukin-6 di antara pasien Covid-19 yang sakit kritis. Peningkatan lebih tinggi terjadi pada kasus yang parah daripada yang ringan. 

Actemra tidak mengurangi kematian di antara pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dalam uji coba fase 3. Meski begitu, obat tersebut telah mengurangi kebutuhan akan mesin pernapasan atau ventilator dalam sebuah studi baru pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Selama 28 hari, hanya 12 persen pasien yang menerima obat intravena membutuhkan mesin pernapasan, dibandingkan dengan 19 persen pasien yang mendapat plasebo. Sekitar 85 persen dari hampir 390 peserta dalam penelitian ini adalah hispanik, hitam, pribumi Amerika, serta diidentifikasi dengan kelompok etnis atau ras minoritas lain.

Itu menjadikan uji coba tersebut sebagai studi klinis fase 3 global pertama dari pengobatan Covid-19 yang sebagian besar melibatkan pasien minoritas.

4. Obat Baricitinib 

Eli Lily juga meneliti baricitinib atau olumiant sebagai obat Covid-19. Obat itu sebelumnya untuk mengobati orang dewasa dengan rheumatoid arthritis sedang hingga berat. 

Obat ini termasuk kelas obat anti-inflamasi yang disebut penghambat janus kinase (JAK), yang membantu menenangkan badai sitokin. Obat yang kemasannya dalam bentuk pil itu menunjukkan harapan awal sebagai obat Covid-19 jika dikombinasikan dengan remdesivir. 

Kombinasi obat itu memasuki uji coba fase 3 pada Mei lalu dengan melibatkan lebih dari 1.000 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Minggu lalu, Eli Lily mengumumkan kombinasi obat ini mengurangi waktu pemulihan rata-rata pasien satu hari dibandingkan dengan pasien yang hanya menerima remdesivir. 

Hasilnya menempatkan perusahaan selangkah lebih dekat untuk mencari otorisasi darurat dari FDA.

5. Obat Steroid 

Analisis WHO menemukan steroid dapat menurunkan angka kematian. Pedoman pengobatan AS telah merekomendasikan pemberian corticosteroid dexamethasone kepada pasien yang menggunakan ventilator atau membutuhkan dukungan oksigen. 

Sebuah uji klinis besar di Inggris pada bulan Juni menemukan dexamethasone mengurangi jumlah kematian hingga sepertiga untuk orang yang menggunakan ventilator, dan sebesar 20 persen di antara pasien yang mendapatkan oksigen ekstra. 

Baru-baru ini, sebuah penelitian di Brasil menemukan pasien yang memakai dexamethasone menghabiskan waktu lebih sedikit dalam menggunakan ventilator. Penelitian menunjukkan corticosteroid lain juga bisa efektif. 

Sebuah kelompok kerja WHO menganalisis tujuh uji coba acak corticosteroid yang secara total melibatkan lebih dari 1.700 pasien Covid-19 kritis. Beberapa menerima dexamethasone, sementara yang lain menerima hidrokortison atau metilprednisolon. 

Secara keseluruhan, para peneliti menemukan lebih sedikit kematian di antara pasien yang menerima steroid dibandingkan dengan mereka yang menerima perawatan standar atau plasebo.