Highlight

Dukung UMKM Go Online, Kominfo Kurangi Kesenjangan Talenta Digital

Saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan digital skills gap atau kesenjangan talenta digital. Hal itu terjadi karena kebutuhan tenaga kerja ahli dalam bidang digital masih belum tercukupi. Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika berupaya membekali tenaga kerja di Indonesia dengan Program Stimulus Pelatihan Digital Talent Scholarship (DTS ) 2020.
Menurut Staf Khusus Menteri Kominfo Dedy Permadi, Kementerian Kominfo memetakan tiga level kecakapan digital, yang semuanya menjadi prasyarat untuk percepatan UMKM Go Online atau Go Digital.
“Di level paling bawah itu kita punya basic digital skill atau orang menyebutnya sebagai literasi digital. Kedua, di level yang lebih atas Kominfo memiliki intermediate digital skill. Ini yang dibutuhkan adalah technician level. Yang terakhir, kami ingin garap betul adalah di sektor UMKM,” jelasnya saat menjadi pembicara Virtual Series Jaga UMKM Indonesia: Kebangkitan UMKM di Era Pandemi melalui tayangan youtube pada Channel Katadata, Jakarta, Jumat (26/06/2020).
Pada level pertama, menurut Dedy, jika berbicara UMKM digital yang membutuhkan teknologi teksnisi-teknisi dalam bidang digital. Saat ini Indonesia membutuhkan berbagai talenta yang memiliki keahlian industri 4.0.
“Kita saat ini sangat membutuhkan beberapa jenis hard skills untuk menghadapi revolusi industri 4.0, seperti Big Data Analytics, Artificial Intelligence, Cybersecurity, Cloud Computing, Internet of Things, Machine Learning, dan sebagainya,” paparnya.
Stafsus Dedi Permadi 2
Dedy menuturkan, tantangan ke depan untuk pelaku UMKM diharapkan tidak hanya bisa on boarding saja tetapi mereka bisa upskilling, rescaling, bahkan mereka bisa masuk ke dalam dunia usaha yang jauh lebih advance dari sebelumnya.
“Nah, ini sumber daya di era digital ini yang terakhir adalah advance digital skill di mana kita membekali para C-level atau Chief Level untuk publik sektor dan privat sektor,” jelasnya.
Dalam hal UMKM, Dedy menjelaskan bahwa hal yang sangat penting adalah C-Level untuk privat sektor di mana CEO, CTO, COO dan dari pelaku industri ini bisa dibekali bagaimana mereka mengakselerasi bisnis mereka di tengah-tengah transformasi digital yang peraaingannya semakin besar. “Yang terakhir, kami ingin garap betul adalah di sektor UMKM ini,” imbuhnya.
Inisiasi UMKM Go Online
Dalam perbincangan, Dedy menyampaikan diperkirakan akan ada 26 juta pekerjaan baru di tahun 2022 akibat dari ekonomi digital ini yang kebanyakan dipengaruhi oleh perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Menurut laporan McKinsey (2018), perdagangan online memberi manfaat yang dahsyat bagi ekonomi suatu bangsa misalnya Indonesia sebagai pasar terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara. Ini potensi yang luar biasa besar, apalagi ekonomi digital di Indonesia menurut laporan Google dan Temasek, menyumbang 11% dari GDP di Indonesia,” urainya.
Lebih lanjut, Dedy menuturkan, Kementerian Kominfo sejak tahun 2016 sudah menginisiasi gerakan UMKM Go Online yang bekerja sama dengan marketplace dan ekosistem. Oleh karena itu, UMKM menjadi salah satu fokus utama di Kominfo diantaranya kita akan mengaktivasi kembali gerakan UMKM Go Online, Petani dan Nelayan Go Online. Kemudian, Kominfo sedang menyelenggarakan pelatihan yang on going ini ada sekitar 15.000 peserta yang mengikuti pelatihan gratis kewirausahaan digital melalui program Digital Talent Scholarship dan juga di level literasi digital memiliki gerakan nasional literasi digital Siberkreasi.
“Ini adalah basic knowledge untuk orang bisa masuk ke dalam era digital. Jadi, tiga hal itu yang kita garap bersama-sama menjadi satu kekuatan Digitalisasi Nasional Indonesia menuju masyarakat digital Indonesia,” tutupnya. (hm.ys)
Stafsus Dedi Permadi 3

sumber kominfo.go.id/